Saturday, March 31, 2007

Be Your Self!!

 

AGUS dan KAKEK TUA

Dahulu kala hiduplah seorang laki-laki bernama Agus. Ia tinggal sendiri di sebuah gubuk di tepi hutan. Suatu hari, Agus duduk di sungai dan memperhatikan ikan-ikan yang berenang yang di antara batu-batu. "Mengapa aku tidak menjadi ikan saja" keluhnya. "Jadi aku tak perlu memotong kayu atau mengambil air. Hidup ku hanya berenang saja sepanjang hari". Tiba-tiba seorang kakek tua menghampirinya. "Apa benar kau ingin menjadi seekor ikan, Agus? Tanya kakek itu. Betapa terkejutnya Agus melihat Kakek tua yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Kakek siapa?" tanyanya masih dengan wajah sedikit kaget. "Jangan takut, aku adalah kakek tua yang tinggal tak jauh dari sini. Apa betul kau ingin menjadi ikan?" tanya kakek tua itu lagi. "Ya betul. Seandainya aku berubah menjadi ikan, aku tidak akan kesusahan seperti ini, kek" keluhnya. Kakek itu hanya tersenyum. Ia lalu menepuk pundak Agus dengan tongkat yang dibawanya. Dalam sekejab Agus telah berada di dalam sungai kecil, berenang-renang diantara batu-batu. Agus sangat gembira. Ternyata dia berubah menjadi ikan. Ia pun berenang sepuasnya dengan kawan barunya.

Akan tetapi, ia lalu merasa lapar. Agus berenang ke permukaan air. Tiba-tiba ia melihat bayangan besar menukik ke arahnya. Seekor burung raja udang biru yang besar mencari ikan untuk makanannya. Agus terkejut dan segera ia berenang dan bersembunyi di balik batu. Jantungnya berdebar sangat kencang.

"Mengapa aku tidak menjadi seekor burung saja" gerutunya pada diri sendiri, "Jadi aku tak perlu takut pada raja udang yang besar itu.".

"Sudah tahu rasanya menjadi ikan, Agus?" tanya kakek tua yang sudah duduk di atas batu tempat Agus bersembunyi. " Ya, kek. Aku ingin menjadi burung saja" jawab Agus. "Burung? Baiklah kau akan kujadikan burung merpati" ucap kakek tua itu. Ia lalu mengayunkan tongkatnya. Dalam sekejap Agus berubah menjadi burung merpati. "Ah inilah hidup" seru Agus bahagia. Lalu ia terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Namun, tiba-tiba ia melihat bayangan melesat ke arahnya. Agus melihat ke bawah. Jauh di sana, tampak sekelompok pemburu. Mereka membawa busur yang besar. "Benda tadi pasti anak panah. Oh nasib! Hidup seekor burung pun tidak enak. Aku hampir menjadi santapan pemburu-pemburu itu!" keluhnya, lalu cepat-cepat ia terbang menjauh. Sesampainya di sebuah bukit, Agus berteriak "Kakek tua ! Kakek tua, tolong aku!". Kakek tua mendengar panggilan Agus. Dengan kedipan mata, kakek itu telah sampai ditempat Agus berada. "Apa yang kau inginkan sekarang, Agus?" tanyanya. " Aku tidak ingin menjadi burung. Aku ingin menjadi singa. Semua orang takut pada singa" ucap Agus. Kakek tua itu tersenyum mendengar permintaan Agus yang mantap. Kembali kakek itu mengayunkan tongkatnya. Dalam sekejap Agus berubah menjadi seekor singa. Ia mengaum dengan bahagia. Raungannya menggema ke seluruh hutan. Burung-burung berhenti bernyanyi dan binatang-binatang lainnya bersembunyi.

Agus berjalan dengan bangga masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba ia melihat seekor kambing terikat di sebatang pohon. "Wah, beruntungnya aku. Inilah makananku!". Agus meraung dan menyerang kambing itu. Wussh! Tiba-tiba saja Agus telah terjerat dalam jaring. Agus merasa sangat bodoh. Ternyata kambing itu adalah umpan. Ia meraung dan berjuang melepaskan diri. Ia tidak mau di simpan di dalam kebun binatang untuk dijadikan tontonan manusia, ia pun tidak ingin menjadi singa sirkus. Tiba-tiba Agus teringat pada kakek tua.

"Tolong aku Kakek!" raungnya. "Apa yang kau inginkan sekarang, Agus" tanya kakek tua. "Tolong keluarkan aku dari tempat ini, kek. Aku ingin menjadi...aku ingin menjadi..." ucapan Agus tertahan. Sebelum ia melanjutkan keinginannya, Kakek tua berkata " Agus, jawablah dulu pertanyaanku. Saat kau menjadi manusia, apakah burung raja udang ingin memakanmu?. "Tidak" Jawab Agus. "Saat kau menjadi manusia, apakah ada pemburu yang mengejarmu?". "Tidak" jawab Agus. "Lalu, saat kau menjadi manusia, apakah ada yang ingin menjeratmu?". "Tidak, tidak, tidak" jawab Agus. "Katakan padaku kau ingin menjadi apa sekarang?". "Aku ingin...menjadi...diriku sendiri," ucap Agus pelan. "Rupanya kau telah belajar dari pengalamanmu" ucap kakek tua itu. Ia lalu mengayunkan tongkatnya, Agus pun kembali menjadi seorang manusia. Kakek itu pun lenyap tak berbekas.

Posted by Heppy at 06:07:02 | Permanent Link | Comments (0) |

Thursday, March 15, 2007

ASYIK

NIKMATNYA BERSETUBUH


Gemuruh air terjun, gemericik air yang mengalir dari sela-sela batu cadas, kicauan burung yang hinggap di dahan pepohonan rindang seakan berpadu harmonis dengan semilir angin air terjun pampang.

Pernah ga kawan-kawan sadari bahwa betapa nikmatnya bersetubuh dengan alam?? Nikmatnya memandangi alam, bermandikan alam, dibelai alam, dan disentuh oleh alam. Bagi mereka yang aktivitasnya full di perkotaan, berteman dengan debu dan polusi tentu akan merasa nyaman sekali jika mengunjungi tempat wisata ini. Contohnya kami, para mahasiswa yang kesehariannya selalu dipenuhi oleh kepenatan, senang sekali saat di ajak untuk melakukan camping di pampang. Dengan kesejukan alami objek wisata ini, semua kepenatan hilang ditelan oleh rimbunnya pepohonan dan derasnya air terjun.

Kami sampai di lokasi camping pada malam hari, setelah membangun tenda dan makan akhirnya kamipun terlelap dikarenakan rasa lelah. Esok paginya kami melakukan susur goa kecil di pampang. Untuk ke goa itu kami harus melewati bebatuan dan air. Tentu saja kami tidak ada yang keberatan sebab airnya jernih dan udaranya sejuk. Setelah sampai di goa, kami harus antri untuk dapat masuk karena goa itu amat kecil bahkan untuk jongkok saja sudah kesusahan. Suasana dalam goa amat sangat berbeda. Di dalam goa amat gelap dan lembab. Setelah keluar dari goa kami mendapatkan suatu kepuasan tersendiri, karena telah bersetubuh dengan salah satu bagian alam, yang tentu tidak bisa kami dapatkan di luar sana. Tetapi kami belum terlalu puas, sebab masih ada 1 gua lagi yang belum kami nikmati, yaitu gua besar (maaf penulis tidak tahu nama gua tersebut). Untuk ke gua tersebut kami harus melalui perjalanan yang cukup menanjak, meskipun tenaga kami tinggal setengah namun semangat kami masih tetap membara. Setelah sampai, kami langsung memasuki gua itu. "Wow..!!" Kata-kata itu yang pertama muncul dari bibir kami, karena saking takjubnya oleh keindahan di dalam gua besar tersebut. Di dalam gua tersebut kami banyak menemukan kelelawar yang sedang asyik tidur, beberapa pintu gua yang saling berhubungan, stalaktit-stalakmit, katak yang lincah, dan kain horden yang tergantung dilangit-langit gua. Perjalanan menulusuri gua besar yang gelap gulita mengharuskan kami menggunakan senter. Sebelum mengakhiri perjalanan menulusuri gua, untuk keluar kami harus memanjat, yang hanya dapat dilalui jika ada saling kerja sama. Dan....akhirnya kami sampai di pintu keluar gua.

Wuuih, memang perjalanan yang cukup melelahkan. Namun hati kami semua pada saat itu sangat berbahagia karena merasakan nikmatnya bersetubuh dengan beberapa bagian alam yang ada di air terjun pampang. Terbesit pikiran (saya pribadi) "akankah kenikmatan ini semua masih dapat di rasakan oleh anak cucu kita nantinya??"

Posted by Heppy at 02:49:33 | Permanent Link | Comments (2) |

HUTAN-KU

BISAKAH ILLEGAL LOGGING BERHENTI??

Oleh : Heppy MPFF

Bruuum…brum…Satu persatu truk kayu melintasi jalan itu. Malam sudah begitu pekat. Batangan log-log yang diangkut truk kayu itu sudah hampir tak terlihat jelas. Entah sudah berapa kali truk itu bolak balik mengangkut pohon yang sudah tidak bernyawa lagi. Bisakah tindakan ini berhenti??Lalu siapa yang harus berperan untuk mengatasi tindakan yang merugikan banyak pihak ini?

Sudah begitu banyak cara yang dilakukan untuk menanggulangi tindak Ileggal Logging yang terjadi di Indonesia, khususnya Kalimantan. Namun hasil yang maksimal sama sekali belum didapatkan. Penebangan hutan yang tak sesuai aturan masih terus berlangsung. Padahal sudah begitu banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk memberantas Illegal Logging. Beberapa kawasan hutan lindung dan suaka alam telah dibentuk, munculnya instansi-instansi yang peduli akan hutan, tingkat penjagaan hutan diperketat, bahkan baru-baru ini telah terbentuk yang namanya “Dewan Kehutanan Nasional”. Tetapi keadaan bukannya menjadi lebih baik malah semakin marak saja tindakan yang dilarang secara hukum itu. Munculnya berbagai industri pengolahan kayu yang tidak memiliki ijin yang sah, menambah indahnya tindak Illegal logging.

Memang, harus diakui bahwa semua ini bukan hanya karena kesalahan pemerintah semata. Kesalahan juga tertuju pada kita, selaku warga Negara Republik Indonesia. Mengapa? Karena kita memang belum melakukan apapun. Kita terlalu sibuk dengan urusan politik, kita terlalu sibuk dengan tetek bengek yang tidak perlu. Kita masih belum sadar, bahwa di luar sana ada sesuatu yang penting sekali untuk diatasi, yaitu Ileggal Logging. Karena dalam Ileggal Logging terdapat segala kejahatan. Mulai dari korupsi, kolusi, nepotisme, dan pelanggaran hak asasi semua makhluk hidup. Akankah karena ingin segepok uang, kita harus merelakan sekian banyak makhluk hidup menjadi korban? Sekali lagi negara kita dan penduduknya masih terlalu lemah dengan sebuah benda yaitu “uang”.

Tentu sudah banyak yang tahu tentang dampak-dampak yang akan terjadi jika tindakan pengerusakan dan penebangan hutan ini terus berlangsung. Misalnya, sulit menemukan air bersih, bencana terus berdatangan, koleksi keanekaragaman hayati yang kita miliki perlahan-lahan akan menghilang, dan udara yang kita hirup tak akan sesegar ketika hutan masih bagus. Kita baru akan merasakan dampaknya jika semua telah terjadi, tetapi bagaimana dengan satwa? Populasi mereka bergantung pada hutan. Para satwa yang tak bersalah itu mendapatkan dampak langsung akibat Illegal Logging. Misalnya, ketika para penebang itu menebang pohon yang menjadi sarang orang-utan maka sudah tentu ia akan kehilangan tempat tinggalnya, belum lagi ketika penebang itu melihat orang-utan maka mereka tak segan-segan menangkap bahkan membunuh jika merasa terancam. Orangutan itu hanya salah satu contoh satwa. Bayangkan saja ketika para penebang itu selalu merasa terancam lalu membunuh satwa-satwa yang tidak bersalah, kita akan kehilangan keanekaragaman hayati yang Tuhan telah titipkan. Lalu kisah tentang orang-utan dan satwa lainnya hanya akan menjadi mitos buat anak-cucu kita. Setelah semua itu terjadi maka yang kita bisa hanya mengeluh dan menyesal.

Apakah Illegal logging itu bisa berhenti? Tentu Illegal Logging akan berhenti seiring waktu. Tetapi, waktu hutan telah habis, waktu sudah tak ada lagi batangan pohon yang dikomersilkan, waktu seluruh kawasan hutan telah jadi areal pertambangan, lapangan sepak bola dan perumahan real estate, dan waktu sang bencana telah mengambil alih alam semesta ini. Waktu-waktu pasti akan tiba ketika kita tak punya komitmen untuk menjaga yang sudah kita miliki.

Jika kita lihat keadaan saat ini tindakan Illegal logging hampir tidak bisa dihentikan. Namun haruskah kita memasrahkan keadaan ini? Jawabannya tentu tidak. Yang seharusnya kita lihat bukanlah keadaan saat ini tetapi keadaan masa yang akan datang. Kita harus mempunyai target dan rencana agar masa yang akan datang tidak menjadi lebih buruk dari masa kini. Ada beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan hutan dari kerusakan akibat Illegal Logging, yaitu:

· Mulai saat ini kita bersama-sama membudayakan menanam tanaman dan merawatnya, menanam bukan karena ingin menebang dan mengambil keuntungan pribadi. Tetapi menanam untuk anak-anak dan keturunan kita. Agar kelak mereka bisa juga menghirup udara segar serta melihat koleksi flora-fauna yang kita miliki.

· Jika melihat kegiatan yang berkaitan dengan perusakan dan penebangan hutan secara liar, maka jangan segan-segan untuk melaporkan kepihak yang berwajib.

· Ikut berpartisipasi dalam pelestarian flora-fauna dengan tidak membeli atau memelihara satwa liar dan tidak menebang pohon secara liar. Jika kita membeli atau memelihara satwa liar, maka kita termasuk ikut ambil bagian dari kepunahan satwa.

· Jika di wilayah kita terdapat hutan, maka anggaplah hutan itu adalah milik kita sendiri. Jadi kita wajib menjaganya dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Konsep-konsep pengelolaan hutan harus segera dibuat oleh pihak pemerintah. Karena, disini peran pemerintahlah yang paling kuat, karena alam dan seluruh isinya di negara kita diatur sepenuhnya oleh pemerintah dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Memang, tindakan diatas tidak bisa membuat tindak Illegal Logging berhenti. Tetapi, paling tidak tindakan itu dapat mengantisipasi laju kerusakan hutan. Pepohonan dan satwa tidak dapat berbicara, tetapi kita bisa. Sampaikan lah keluhan alam yang tak terdengar itu. Kita bisa memilih, menyelamatkan hutan atau menerima segala bencana.

Posted by Heppy at 02:33:25 | Permanent Link | Comments (2) |

Tuesday, March 13, 2007

SEPUTAR KAMPUS

KAMPUS KEHUTANANKU

(Sedikit diskripsi tentang Fakultas Kehutanan)

Oleh: Heppy MPFF

Kampusku adalah fakultas Kehutanan, salah satu fakultas yang berada di kawasan UNMUL, salah satu fakultas yang dihinggapi beberapa bangunan tinggi dengan beberapa kelas yang di dalamnya terdapat 4 Kipas angin. Bangunan yang paling megah ada di sentra kampus ku, sedangkan bangunan yang lainnya masih berupa bangunan yang sudah terlihat lama. Kampus ku merupakan salah satu kampus yang mempunyai laboratorium dan perlengkapan yang lengkap, belum lagi banyak sekali dosen yang bergelar “Profesor”. Tentu saja aku tak sendiri kuliah di kampus sebesar itu. Ada ribuan orang yang menggunakannya sebagai tempat belajar dan puluhan orang yang mengunakannya sebagai tempat untuk mencari nafkah.

Kalau ada yang mengatakan kampusku mirip rumah mewah, aku tak akan menyangkalnya. Karena pada mulanya ruangan besar itu memang disiapkan untuk digunakan untuk kenyamanan para mahasiswa dan para staf fakultas tinggal sementara waktu. Namun entah karena alasan apa kini fakultasku kurang diminati oleh para siswa siswi yang sudah pantas menggunakan gelar mahasiswa. Pada tahun 2006 ini, kampusku hanya diminati oleh 13 orang saja.

Aku juga tak akan menyalahkan jika ada orang yang berargumen takut kehilangan prospek kerja karena hutan hampir habis. Memang, cara pandang kami yang sudah menjadi mahasiswa fakultas Kehutanan sangat berbeda dengan orang-orang di luar sana. Aku sendiri yang telah 2 tahun menjadi mahasiswa fakultas Kehutanan tetap perlu merasa was-was untuk masa depanku nanti. Sebab sudah begitu banyak perusahan kayu bangkrut dikarenakan “plus”nya tindak Ilegal Logging. Tetapi yang aku yakini, setiap fakultas pasti ada masa kejayaannya sendiri-sendiri.

Aku menduga, turunnya minat orang luar dengan fakultas Kehutanan bukan hanya berasal dari prospeknya saja, namun juga dari minimnya tenaga yang mempromosikan fakultas ini. Mungkin, kita kurang bisa meyakinkan bahwa masalah “pekerjaan” bukan hanya sulit di fakultas kehutanan. Namun fakultas yang lain pun tidak bisa menjamin semua mahasiswanya mendapatkan masa depan yang layak. Tapi aku juga bisa dikatakan belum berani berbicara seperti itu, karena sesuatu dari pikiranku ini selalu mencegahnya.

Sesuai dengan namanya, kampusku bergerak dibidang kehutanan, ada berbagai jurusan terdapat di dalamnya, antara lain, Manajemen Hutan, Konservasi Sumber Daya Hutan, Budidaya Hutan, dan Tekhnologi Hasil Hutan. Semua jurusan memiliki bidang ahli sendiri-sendiri. Aku sendiri berada di jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, ruang kelasku tidak monoton, namun berganti-ganti. Kadang di gedung yang lama dan kadang di gedung yang masih baru. Di gedung yang lama, yaitu 412, ruang kelasnya sedikit kotor dengan jumlah kipas angin 4 buah, tepatnya hanya 2 buah yang masih bisa digunakan. Jika kita melihat keluar ruangan kelas maka akan nampak beberapa pohon waru gunung, akasia, dan pepohonan jenis lain. Dan jika kita melihat kebelakang maka akan terlihat jogging track (tempat untuk jogging).

Sedangkan di gedung yang baru, ruang kelasnya sudah hampir menyerupai kamar mewah. Ruangan kelasku berada di lantai 2, para pendiri gedung baru itu menyebutnya ruangan C2. Beralaskan lantai keramik, 4 buah kipas angin yang semuanya bisa digunakan, dan kursi yang nyaman. Pada setiap sisi kursi, ada sebuah meja yang digunakan untuk menjadi alas saat beraktivitas di atasnya. Kami biasa menyebutnya kursi kuliahan, walau pada kenyataannya kursi itu kadang dijejer dan digunakan sebagai tempat tidur jika tidak ada dosen. Setahuku, meja-meja di kursi kuliahan itu seharusnya hanya digunakan sebagai alat bantu dalam aktivitas (menulis, membaca, dll). Namun, kalau diperhatikan lebih dekat, maka akan nampak tulisan-tulisan dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Ada yang bertuliskan nama-nama orang, ada yang menyatakan cinta, ada pula yang digunakan untuk tindak KKN (mencontek, dkk). Sudah hampir tidak ada meja yang masih bersih.

Walaupun begitu, fakultas ini mempunyai sarana praktek yang lengkap. Ada laboratorium ruangan dan ada juga laboratorium alam. Peralatan yang tersedia juga tidak kekurangan. Fakultas Kehutanan mempunyai 2 laboratorium alam, antara lain Taman Hutan Raya Bukit Soeharto dan Kebun Raya Unmul Samarinda. Biasanya, laboratorium alam itu digunakan untuk praktikum, PKL (Praktek Kerja Lapangan), penelitian, dan rekreasi.

Oia, jangan pernah berpikir bahwa jika kuliah di Kehutanan maka kita cuma berkutat di bidang itu-itu saja, namun juga bisa alih profesi. Karena fakultas ini tidak hanya mengajarkan ilmu kehutanan, tetapi juga ilmu sosial, ekonomi, budaya, air, tanah, iklim, bahkan budiddaya tanaman.
Setelah aku menceritakan sedikit tentang kampusku, masihkah kau mengira aku tidak bangga dengan fakultasku ?
Lalu masihkah kau berpikir bahwa fakultas kehutanan adalah fakultas yang tidak berbobot di bandingkan fakultas yang lain??

Posted by Heppy at 12:17:56 | Permanent Link | Comments (2) |

SATWA

ORAN

(Sedikit Kisah Tentang Orangutan)


 

Suatu ketika, disebuah kawasan yang dipenuhi oleh pepohonan, tersebutlah seekor orang-utan yang sedang menangis sendirian di bawah tajuk pepohonan. Tubuhnya besar, dengan dipenuhi banyak bulu berwarna kecoklatan. Ia bersandar sambil memegang bahunya yang telah mengeluarkan darah.

Pagi itu cuaca amat cerah, semua satwa melakukan aktivitasnya masing-masing, mulai dari membuat sarang, mencari makan, berjalan-jalan, dan segala aktivitas lainnya. Begitu juga dengan Oran. Seekor orang-utan jantan yang telah hidup selama kurang lebih 5 tahun di hutan itu. Tubuhnya lebih besar dibandingkan orang-utan sebayanya. Banyak satwa-satwa lain yang meminta tolong padanya jika ada kesulitan. Dan Oran pun tidak segan-segan menolong teman-temannya yang butuh bantuannya. Satwa-satwa lain sangat bersyukur atas keberadaa Oran.

Oran adalah orang-utan yang penuh semangat, walaupun dia sempat terkena trauma yang dalam akibat masa kecilnya yang begitu mengenaskan. Dia sejak kecil telah terpisah dari ibunya karena pembantaian yang dipelopori oleh ulah manusia. Oran termasuk orang-utan yang beruntung karena ia selamat dalam pembantaian tersebut. Ibunya menyembunyikan dia di sela-sela pepohonan yang batangnya rapat. Kejadian itu sangat membekas di hati Oran.

Namun, suatu hari ketenangan Oran dan satwa lainnya terusik oleh kedatangan manusia, yang membawa tombak, pistol, chaincaw, dan benda-benda tajam. Oran punya firasat bahwa manusia yang berkunjung di habitatnya tersebut bukanlah manusia yang baik. Dengan cepat ia memberitahukan informasi ini ke teman-temannya. Tetapi sayang, semua sudah terlambat. Manusia itu terlalu cepat merusak semuanya, sehingga teman-temannya banyak yang terbunuh dan disandera oleh kawanan manusia-manusia itu. Tiba-tiba rasa trauma menyergap pikiran Oran, ia jadi teringat betapa kejinya manusia menghabisi ibunya dan sekarang manusia itu ingin mengambil teman-temannya. Keberanian dan kekuatannya hilang begitu saja. Dia yang biasa diandalkan oleh teman-temannya, tidak berdaya ketika para manusia iu mengambil semua kebahagiannya. Oran terdiam di atas batang pohon sambil menangis melihat kekejaman manusia-manusia itu. Dia menangis "Oh Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan kepadaku, Mengapa kau mengambil semua yang menjadi milikku?" begitu ratap Oran.

Di sela tangisannya, ia melihat beberapa manusia mendekati pohon yang menjadi tempatnya berpijak. Tiba-tiba terdengar gerigi tajam chaincaw menyentuh pohon itu. Betapa paniknya Oran, dengan sisa keberanian yang ia miliki, ia lalu turun dari pohon. Saat Oran turun, para manusia itu terkejut dan merasa terancam. Dengan kejamnya mereka menembak Oran. Untung saja Oran sempat lari, namun bahunya ternyata terkena serempetan peluru sehingga menimbulkan luka yang lumayan parah.

Sambil menahan sakit Oran terus berlari ke dalam hutan mencari tempat yang aman. Sementara itu terdengar dari kejauhan suara langkah kaki manusia yang sepertinya masih belum puas atas perbuatan yang mereka lakukan. Saat itu Oran melihat pohon bangkirai besar, di sanalah ia memilih bersembunyi. Dia masih saja menangis dan berdoa "Ya Tuhan jika benar ini salah kami mohon maafkan kami, tetapi jika para manusia itu yang salah hukumlah mereka dengan balasan yang setimpal."

Hai kawan, dengan menyimak sedikit cerita tadi apakah sempat terbesit dipikiran kita, betapa kejam manusia yang tidak menggunakan hati nuraninya ketika ia mencari sesuap nasi tanpa memikirkan kehidupan lain yang ada. Dengan buasnya mereka merusak segala keanekaragaman hayati dalam suatu kawasan hutan. Padahal di kawasan itu banyak sekali makhluk hidup yang berhak hidup bebas, merasakan kasih dan sayang, merasakan hidup sosial. Sudahlah cukup dengan kompetisi persaingan mereka dalam hutan saja yang merupakan seleksi alam bagi mereka, janganlah kita menambah beban hidup mereka. Seharusnya manusia, flora-fauna, dan makhluk hidup sudah mendapat bagian sendiri-sendiri di bumi ini. Oran hanyalah salah satu satwa yang kebahagiannya telah direngut paksa dan menjadi subjek dalam cerita ini. Tegakah kalian, merenggut kebahagian satwa lain yang sekarang sedang bahagia bersama keluarga dan teman-temannya di dalam hutan??

 

 

Posted by Heppy at 12:16:04 | Permanent Link | Comments (0) |