ASYIK
Gemuruh air terjun, gemericik air yang mengalir dari sela-sela batu cadas, kicauan burung yang hinggap di dahan pepohonan rindang seakan berpadu harmonis dengan semilir angin air terjun pampang.
Pernah ga kawan-kawan sadari bahwa betapa nikmatnya bersetubuh dengan alam?? Nikmatnya memandangi alam, bermandikan alam, dibelai alam, dan disentuh oleh alam. Bagi mereka yang aktivitasnya full di perkotaan, berteman dengan debu dan polusi tentu akan merasa nyaman sekali jika mengunjungi tempat wisata ini. Contohnya kami, para mahasiswa yang kesehariannya selalu dipenuhi oleh kepenatan, senang sekali saat di ajak untuk melakukan camping di pampang. Dengan kesejukan alami objek wisata ini, semua kepenatan hilang ditelan oleh rimbunnya pepohonan dan derasnya air terjun.
Kami sampai di lokasi camping pada malam hari, setelah membangun tenda dan makan akhirnya kamipun terlelap dikarenakan rasa lelah. Esok paginya kami melakukan susur goa kecil di pampang. Untuk ke goa itu kami harus melewati bebatuan dan air. Tentu saja kami tidak ada yang keberatan sebab airnya jernih dan udaranya sejuk. Setelah sampai di goa, kami harus antri untuk dapat masuk karena goa itu amat kecil bahkan untuk jongkok saja sudah kesusahan. Suasana dalam goa amat sangat berbeda. Di dalam goa amat gelap dan lembab. Setelah keluar dari goa kami mendapatkan suatu kepuasan tersendiri, karena telah bersetubuh dengan salah satu bagian alam, yang tentu tidak bisa kami dapatkan di luar sana. Tetapi kami belum terlalu puas, sebab masih ada 1 gua lagi yang belum kami nikmati, yaitu gua besar (maaf penulis tidak tahu nama gua tersebut). Untuk ke gua tersebut kami harus melalui perjalanan yang cukup menanjak, meskipun tenaga kami tinggal setengah namun semangat kami masih tetap membara. Setelah sampai, kami langsung memasuki gua itu. "Wow..!!" Kata-kata itu yang pertama muncul dari bibir kami, karena saking takjubnya oleh keindahan di dalam gua besar tersebut. Di dalam gua tersebut kami banyak menemukan kelelawar yang sedang asyik tidur, beberapa pintu gua yang saling berhubungan, stalaktit-stalakmit, katak yang lincah, dan kain horden yang tergantung dilangit-langit gua. Perjalanan menulusuri gua besar yang gelap gulita mengharuskan kami menggunakan senter. Sebelum mengakhiri perjalanan menulusuri gua, untuk keluar kami harus memanjat, yang hanya dapat dilalui jika ada saling kerja sama. Dan....akhirnya kami sampai di pintu keluar gua.
Wuuih, memang perjalanan yang cukup melelahkan. Namun hati kami semua pada saat itu sangat berbahagia karena merasakan nikmatnya bersetubuh dengan beberapa bagian alam yang ada di air terjun pampang. Terbesit pikiran (saya pribadi) "akankah kenikmatan ini semua masih dapat di rasakan oleh anak cucu kita nantinya??"

